Friday, 31 August 2007

Sicko, film terbaru Michael More, kayak apaan sih?

Saya gak pernah sempet nonton filmnya michael more.. mo nonton kok lupa-lupa melulu. Pertama kali saya nonton tentang penutupan pabrik mobil terbesar di Detroit, waktu itu langsung suka. Tapi setelahnya saya malah gak pernah nonton. Padahal, Bowling Columbine kan katanya seru.. apalagi kataya ada Marlyn Manson pandai bersilat lidah di dalamnya.

Denger-denger bakal ada film terbaru Michael More, Sicko, yang mengungkap tentang sistem asuransi kesehatan di US. Kayak apa sih? Pas lagi keluar di Fr tanggal 5 September 2007, saya gak ada di sini, dan balik-balik, udah dihajar sama kuliah..Ceritain ya!!!

Getting out from Multiply (and return to blogger, hehe)




Kawan-kawan para kontakku yang berbahagia, saya undur diri dulu ya dari dunia internet, entah selamanya atau cuman sementara, terus terang saya masih belom bisa menentukan. Rasanya sih kalau selamanya, ya gak mungkin ya, karena saya bawel, suka banget ngeblog, doyan ngintip resep orang di net dan doyan banget mempraktekannya.

Beberapa tahun belakangan ini, dari jaman belom ikutan multiply, saya udah aktif nulis blog di berbagai situs blog lain, dalam bahasa inggris yang ancur-ancuran (udah diapus tuh...hehe), tapi ternyata ngeblog dalam bahasa Indonesia jauh lebih asik dah, lebih plong, dan lebih jelas publiknya yang mana!!

Sekarang, saya sepertinya harus mengurangi hobby saya yang bikin si mas gorilla geleng-geleng karena saya terlalu banyak nongkrong di computer, karena ada beberapa hal.

Selama tiga minggu di bulan September 2007 ini, saya mau "ngajak" jalan-jalan mas Gorilla ke habitatnya, yaitu alam bebas (hehe..), ke salah satu negara yang gak terlalu jauh dari Perancis. Sekembalinya kami dari liburan, bakal ada kegiatan perkuliahan yang butuh konsentrasi dan waktu yang tidak sedikit. Jadi kayaknya dapur juga harus tutup dulu, dan saya akan mengembalikan tampuk kekuasaan kepada pemilik aslinya, ya si mas gorilla itu (makanya kemarin-kemarin, dia udah mulai nepsong masak!).

Jadi maaf aja kalau saya gak sempet melihat postingan kawan-kawan. Maaf kalau selama ini saya sering membanjiri message board mp anda dengan postingan-postingan gak penting (sampai saking malunya, akhir-akhir ini saya mencoba untuk gak click post to message board loh, biar gak terlalu banjir.. haha). Tentu saja, saya masih akan membiarkan situs mp saya ini hidup (kalau ada yang mau liat resep... walaupun kemungkinan itu kecil sekali..hehe). Maaf juga kalau selama kita berinteraksi, ada salah-salah kata/tindakan saya. Saya akan berusaha mengunjungi mp kawan-kawan sesempatnya saya (ah.. piye iki niat gak sih konsen belajar ?!..hehe.. ), yah frekuensinya udah gak sesering kemaren-kemarenlah, dan mungkin gak akan sering ninggalin komen. Jadi kalau headshot saya wara-wiri di mp, anggap aja itu hantu saya gentayangan..hehe.

Mohon doa restunya, semua lancar, ya liburan ya kegiatan barunya. Doain pas liburan, gak sakit, gak ada bom bunuh diri dan lain sebagainya (hehhe.. kayak mo ke Irak nih.. ). Mohon doanya juga, agar saya bisa menyelesaikan kewajiban saya dalam belajar, karena saya merasanya yang satu ini bakal susah betul, karena saya sudah bukan lagi single/muda/pengangguran sejati etc etc, dan tanggung jawab udah bukan belajar untuk nyeneng-nyenengin ortu lagi kayak jaman dulu.

Dan akhir paragraph, saya ucapkan, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalaninya, semoga september ini akan menjadi september ceria buat kita semua. Eyy.. jangan putus tali persahabatan kita ya... (tau kan gimana menghubungi saya!).


emang ada yang bisa pensiun dari mp? Mission tidmung banget deh!!


Ps:
terimakasih untuk tetangga saya yang udah minjemin studio fotonya, lengkap dengan makanan dan kecap di atas meja..hehehe

Thursday, 30 August 2007

Para Korban dari Tart Buatan si Gorilla

Kemaren ada kumpul bocah di tempat si Ibon.. kangen-kangenan atas kembalinya para primadonas (dia, anaknya, dan Yuli) kembali ke tanah Essone. Dan kalau ke tempat doi, pastilah kita makan sampe perut mo meledak.

Dan yah, malu karena biasaya saya tidak pernah membawa apa-apa kalau ke tempat doi alias cuman bawa body ama mulut doang (tumben malu, biasanya cuek..hehe), , akhirnya saya membawakan blacberry tart buatan mas Gorilla malam sebelumnya. Kebetulan kami emang lagi mo kuras isi lemari es, jadilah akhir-akhir ini kami banyak masak.

Nah yang di bawah ini, adalah dua dari korbannya. Si Ibon gak mau jadi korban.. soalnya gak demen kue manis katanya. Hmmm.. enak juga jadi dia, gak kena godaan gula-gulanya kue... bisa sehat dan lancar diet maksudnya.


dora dan tante cantiknya


hap!!!


tarte aux mûres

Kecuali Paris, Keberhasilan Pariwisata di Perancis Bergantung kepada Cuaca



Hasil pengamatan yang dikeluarkan oleh pemerintah (badan pariwisata perancis -ODIT) kemarin, mengungkapkan bahwa beberapa daerah di Perancis menderita penurunan pengunjung karena cuaca yang gak jelas antara panas-dingin-hujan di musim panas tahun ini. Tapi tidak dengan Paris. Walaupun cuaca mirip seperti perempuan kena PMS, Region Parisienne atau île-de-france tetap dapat menikmati banjir pengunjung, dengan kembalinya para turis, khususnya dari US dan Jepang walaupun cuaca di sekitar region ini amat sangat tidak jelas, dan membuat penduduknya makin menderita stress (hehe, pengalaman pribadi).
Eh Jepang sih dateng melulu ya, biarpun ada Paris Syndrome juga, gak ngaruh. Malah dapat dikatakan bahwa pariwisata Paris mengalami bulan madunya pada tahun ini, dan merupakan salah satu yang terbaik dalam lima tahun terakhir ini.

Menurut kacamata orang awam (tidak bisa dijelaskan sumber dan tidak dapat dipertanggungjawabkan nilai kebenarannya), kembalinya orang Amerika setelah polemik Perancis dan Amerika dalam dukungan perang Irak, disebabkan karena liburan sukses Sarkozy ke US baru-baru ini. Kalau menurut orang awam lainnya, sukses film Davinci's Code tahun lalu lah yang membuat orang-orang makin menggila untuk datang ke Louvre, museum kedua yang paling dikunjungi di dunia. Selain itu, Paris memiliki musée d' art modern sebagai museum keempat yang paling dikunjungi di planet ini (padahal isinya sih menurut saya yang gak ngerti art modern yah...absurd!!hehe). Museum nomor satu yang paling dikunjungi di dunia? Museum NASA di Washington D.C. dong ah!


Daerah yang diduga mengalami penurunan dalam tingkat hunian hotel adalah sekitaran (termasuk) Toulouse, region Alpen, Les Voges, dan Bretagne, yang sekiranya bayak sekali terdapat aktivitas outdoor. Untungnya Bordeaux tidak mengalami penderitaan yang sama, berkat penghargaan dan perlindungan UNESCO terhadap kota tuanya. Sedangkan daerah Côte d'Azur tetap menjadi tujuan wisata yang diminati oleh wisatawan dalam negeri, karena cuacanya yang selalu indah hampir sepanjang tahun.

Tahun 2006, Perancis dibayat sebagai negara bertujuan wisata terbesar, dengan total pengunjung 78 juta orang, diikuti oleh Spanyol 53 juta orang, USA 46,1 juta orang, China 41,8 juta orang, dan Italia 37,1 juta orang. untuk olahraga musim dingin, negara berbentuk hexagon ini memiliki pangsa pasar dunia sebanyak 25% (gak tau ya kalau musim dinginnya panas lagi kayak kemaren ya orang mending berenang di Côte d'azur lagi mungkin, hehe).

Kesuksesan ini bukannya tanpa beban. Tantangan terberat sektor tourism negara ini selain cuaca (yah..memang nyalahin cuaca itu kan gampang), adalah bagaimana memuaskan para turis, bikin turis lebih betah berlama-lama tinggal, dan bikin turis belanja lebih banyak di negara ini. Bila dibandingkan dengan negara tujuan turis terbesar kedua, Spanyol, Perancis masih kalah jauh. Total belanja yang dilakukan turis di negara olé adalah sebesar 45 milyar (billion -BrE) euro. Sedangkan di Perancis mereka hanya membelanjakan 35 milyar euro saja. Belum lagi masalah dalam negeri negara yang olahraga nasionalnya adalah strike atau mogok kerja, bikin turis pusing cari angkutan umum termasuk pesawat terbang untuk keluar dari negara neraka ini (hehe). Masalah lainnya adalah, Perancis hanya membelanjakan 33,8 milyar euro untuk promosi pariwisatanya, kalah jauh bila dibandingkan dengan Spanyol yang membelanjakan dua kali lebih banyak.

Negara ayam jantan ini masih menantikan kedatangan turis-turis pada bulan September, dimana akan diadakan Rugby World Cup 2007. Lumayan deh, adanya Rugby World Cup setidaknya mendatangkan rejeki buat satu orang kawan saya yang tinggal di Marseille, hehehe.

Mudah-mudahan kerjaannya lancar ya nak, meskipun bulan September adalah musim kejuaraan mogok kerja di Perancis. Salam deh buat para pemaen rugby ganteng yang kau temui. Sayang sekali, saya tidak sedang ada di Perancis pada saat-saat itu, padahal pengen tau juga, dan kebetulan si keong mas, adalah salah satu penggemar olahraga ini di TV (yoi baru tingkat tv aja dia mah). Jangan lupa supportnya buat Les Bleus dan hati-hati ntar digoda-goda sama para bongsor!!!!

Sumber:
Le Point no. 1882 (16 agustus 2007)
Le Monde 1
Le monde 2
20minutes.fr 1
20minutes.fr 2

carnet d'adresse : Japanese Touch in Paris (updated)



Setelah membahas tentang sindroma paris di postingan sebelumnya sekarang saya mau cerita tentang sentuhan jepang di ibukota Perancis.

Paris di bulan Agustus adalah Paris yang sepi. Tapi saking sepinya bosenin deh ah, soalnya banyak toko yang tutup, karena pemilik dan pegawainya pada sibuk liburan (untung agustus udah mau berakhir). Yah, memang orang Perancis emang paling demen liburan di bulan Agustus (warisan jaman dulu). Anehnya, kebiasaan ini menular kepada orang Jepang yang tinggal di Paris, mereka juga jadi ikut-ikutan meliburkan diri. Sesuatu yang aneh karena mereka sangat terkenal dengan etos kerja yang tinggi, dan merasa cukup dengan memiliki waktu libur 12 hari dalam setahun.

Saya suka masakan jepang. Banyak orang menganggap masakan jepang kurang berbumbu, tapi menurut saya, di sini lah seninya, masakan jepang begitu halus. Untuk saya yang belum pernah ke Jepang, rasanya susah juga ya bilang, mana masakan jepang yang enak mana yang enggak, mana yang punya cita rasa asli, walau kadang-kadang di Jakarta atau di Bali, saya pernah juga masuk restaurant di mana yang masak orang Jepang asli. Dan rasanya sih ya enak-enak aja, terlepas dari apakah ini cita rasa jepang asli atau bukan.

Tapi memang seringkali, saya masuk ke restaurant jepang di Paris, yang masak bukan orang Jepang, dan kadang-kadang rasanya amburadul karena kurang memperhatikan kualitas, dan malah jadi cita rasa makanan China. Maka dari itu, teman-teman saya yang orang Jepang, memberikan advice kepada saya untuk selalu pergi ke restaurant dimana yang masak adalah orang jepang asli, atau dikelola secara jepang. Semenjak itu, saya jadi sering berburu restaurant jepang seperti yang disarankan teman saya.

Btw, memang untuk kualitas jepang asli ini, harga jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan restaurant/supermarket yang bukan Jepang asli. Bila anda ingin menemukan versi harga murah dari bahan makanan jepang, sebetulnya bisa dicari di supermarket Tang Frère, (supermarket asia terbesar di Paris) atau di beberapa supermarket asia lainnya. Tapi untuk bahan yang lebih spesifik seperti dashi, rasanya cuman bisa nemu di supermarket Jepang.

Anyway, berikut adalah beberapa alamat restaurant/toko kue/supermarket Jepang yang menjual kualitas maupun rasa Jepang. Ada sebagian yang sudah pernah saya coba, ada yang baru wacana saja:
  1. Taéko di marché (pasar) des enfants rouges: 39 rue de bretagne M:Filles du calvaire, buka dari selasa sampai minggu dari jam 9 sampai jam 15 dan dari jam 16-18. Tutup hari minggu setelah jam 12 dan setiap hari senin. Tidak banyak menu pilihan, hanya nasi jepang, menu rumahan saja. Tapi, kelebihannya, nasi jepangnya ennuakkk banget. Gurih abis. Rada mahal sebetulnya, siap-siap untuk menghabiskan sekitar 10 euro untuk satu makanan dengan porsi kecil.
  2. Ju jiya, sebuak catering jepang, di 42, rue St. Anne, buka setiap hari, 7/7 hingga jam 19:30 malam. Mereka menyediakan menu rumahan masakan jepang. Yang ini tidak terlalu mahal, dengan 7 euro bisa dapet satu kotak sushi, dan udah kenyuang banget. Ada bakwan jepang, ada bento-bento juga. Di bagian belakangnya terdapat mini market jepang, tempat saya nyetok bahan makanan jepang saya.
  3. Berikutnya adalah Kunitoraya, rue St. Anne, menyediakan udon. Restaurantnya agak mahal, bila dibandingkan restaurant jepang sekitarannya. Tapi bersiap-siaplah mengantri bila hendak makan di sini, karena restaurant ini banyak penggemarnya. Persis di sebelah kunitoraya ini ada satu restaurant, yang saya juga sudah pernah coba. Tapi saya lupa namanya. Ini enak juga, dan antri, makanannya banyak berupa udon-udon.
  4. Supermarket Jepang yang lainnya adalah salah supermarket Kiyoko (kalau gak salah namanya sih gitu ya) yang berseberangan dengan Starbuck, di jalan rue des petits champs. Supermarket ini rada mahal, dibandingkan dengan supermarket jujiya, tapi bahan makanannya lebih lengkap.
  5. Ada satu restaurant jepang yang menyediakan menu mie-mie (tepanyaki), yang dimasak oleh kokinya persis di depan kita, namanya Higuma. Restaurant ini terletak di rue st. Anne, di seberang restaurant Kunitoraya. Ini super ngantri deh, kalau jam-jam makan siang. Ini inceran saya berikutnya!!!
  6. Toko kue (patisserie) dan salon du the. Tidak jelas namanya apa, karena tidak ada papan namanya, tapi dekorasinya menarik, imut-imut, centil dan pinky. Di sini teman jepang saya bekerja sebagai pelayan (semua pelayannya memang orang Jepang). Alamat pastinya 11 bd courcelles (metro Villiers ligne 3). Tutup setiap hari rabu. Makanan maupun kue-kuenya memang Perancis, tapi teknik pembuatannya merupakan campuran antara Jepang dan Perancis, yang memberikan rasa dan tampilan baru pada kue-kuenya. Benar-benar classy. Harganya lebih mahal daripada toko kue atau salon du the lainnya di Paris, tapi dapat dimengerti, mengingat lokasinya yang tidak jauh dari Parc Monceau, tempat para bourgeois Paris tinggal dan tentu aja karena tampilan kuenya yang wah, dan rasanya yang "très fin".
(sorry kuenya agak bocel-bocel, maklum dari tokonya ke rumah gue jauh banget, jadi udah keburu rusak deh tuh kue-kue pada kegusrak-gusrak di tenteng buat naek turun métro Paris).

Ada banyak restaurant jepang di Paris, tapi tidak banyak yang benar-benar enak atau yang benar-benar menyediakan the real deal of the jap cuisine. Untungnya, setelah mencari-cari di net, saya menemukan suatu situs yang menawarkan apa yang selama ini saya cari: alamat-alamat restaurant jepang yang authentik. Berikut adalah linknya:



Kawasan Japan townnya Paris terletak gak jauh dari gedung Opera (sekitar 1 km dari Louvre). Bila anda sudah ketemu gedung ini, anda akan melihat disekitaran banyak sekali orang Jepang, dan juga turis Russia. (hehe.. gak tau ada apa ya mereka dengan kawasan ini). Selain itu, banyak juga sih emang kantor-kantor internasional di daerah sini. Beberapa blok dari gedung opera, terdapat, banyak restaurant jepang, dan juga beberapa supermarket jepang (rue St. Anne). Tapi hati-hati, banyak juga diantara mereka yang tidak memiliki cita rasa jepang asli, kalau memang pengen makanan jepang asli, pandai-pandailah memilih bila tidak ingin kecewa.

Chambord

Ini dia chateau yang paling dramatis di Perancis. Bentuknya yang sangat unik, bergaya reinessance, gak bakal dilupain sama orang-orang. Mengingatkan kita sama negeri dongeng-dongeng model Cinderella, atau Putri yang dikurung di menara atas, dan ngepang rambutnya sampai bawah sehingga sang pangeran bisa manjat rambutnya itu dan menyelamatkan sang putri (duh bokis banget, emang mereka turunnya lagi pake apaan ya? Terjun? Pake rambutnya putri tadi? Yah.. putrinya ditinggal diatas dong? Terjun pake payung kali...).

Anyway, Chambord terletak di Blois (de la loire) dibangun di tahun 1519 oleh François I (dengan jasa baik Leonardo da Vinci sebagai arsitektur yang bantu2 kasih ide), menggunakan 18.000 pekerja selama 30 tahun pembangunannya. (Pembaca multiply ada yang mau nambahin lebih lanjut tentang sejarahnya mungkin?).

Sayang, waktu kami kesana, kita gak masuk ke dalam. Kami agak buru2 melanjutkan perjalanan, karena kita juga gak ada rencana untuk berkunjung kemari. Saya pun, seperti biasa, awalnya, tidak pernah tahu, kalau ada tuh yang namanya Chambord, kastil yang penuh fantasi. Pas nyampe, baru bengong, kok ada yang beginian di Perancis?






bareng ama temen di Chambord


cerobong asap di chateau


kolam di sekitaran chateau



























un romantique rendez-vous de l'aprèm, au Musée du quai Branly - Paris (Kencan Siang yang Romantis di Museum Quai Branly - Paris)

Tadi siang, janjian ama mantan pacar untuk kencan bareng. Iseng aja, udah lama pengen jalan-jalan di kota Paris yang romantis (asal jangan ada tokai anjing di mana-mana... tega deh ah!! hehehe... ). Maunya naek metro.. sekali-sekali gitu loh, pake kendaraan andalanku. Biar makin romantis, dan sangat parisian sekaleee (duleile..segitunya!).

Tadinya saya mau ngajak si doi (cie elah.. kayak lagunya Dina Mariana jaman dulu, .. "doi" bo!!) ke Musée Guimet, museum yang menyimpan koleksi The Great Asian Culture, yang saya kunjungin sama Madame Woetz beberapa waktu yang lalu. Saya pengen nunjukin aja ke dia sepenggal kisah kerajaan Sriwijaya dari Palembang, yang ada di museum itu. Tapi dipikir-pikir, mending cari museum laen aja deh, di Paris masih banyak banget museum yang belom saya kunjungin. Akhirnya saya pilih museum yang deket sungai Seine dong, Museum Branly ini. Toh pasti ada koleksi tentang Indonesianya juga. Wong ini museum tentang kebudayaan etnik, ya pasti ada dong. Dan alasan kedua dipilihnya museum ini adalah, biar makin romantis gituh. Karena udah lama juga, kita gak jalan-jalan di pinggir sungai Seine, menikmati sinar matahari yang jatoh di kota Paris. Terakhir waktu kita pulang dari Museum Dunia Arab (masih sodaraan temennya dunia fantasi jakarta kayaknya..hehehe). Itu juga di pinggiran sungai Seine, dan kita jalan ke arah gereja Notre Dame de Paris.Sinar keemasan matahari yang mantul di besi menara Eiffel, dan di riak sungai Seine, biasanya menambah romantisnya suasana kota.

Sedikit cerita tentang musium Branly. Musium ini terletak dipinggir sungai Seine, deket banget sama menara Eiffel. Diresmikan tahun lalu sama president Perancis Jacques Chirac, museum dengan arsitektur moderen (aneh bin ajaib bentuk gedung dan juga sistem pencahayaannya) ini menyimpan beragam koleksi etnik dari empat benua di dunia (lima kali yeee.. saya gak nemu yang bagian eropa.. abis kaki udah gempor.. gede banget bo). Ada beberapa bagian yang menampilkan kerajinan dari Flores, Papua, Timor, dan berbagai pulau lain di Indonesia. Museum ini kayaknya masih satu seri dengan museum Guimet yang saya udah ceritain tadi. Karena koleksi yang ada di sini, yah gak ada di museum Branly, gitu juga sebaliknya.

Setelah kira-kira 3 jam menghabiskan waktu di sana dan gempor banget, kita cabut mencari stasiun metro terdekat untuk pergi ke arah Place d'italie. Maen-maen bentar, trus pulang ke rumah, naek tram Paris yang baru. Biar si mantan pacar bisa mengoptimalkan tiket terusan metronya dengan naek multimodaan kemana-mana (rugi bo, bayar ampir €10, mobilist zona 1-4, kalo gak dipake secara optimal?), dan juga ngerasain deh gimana rasanya naek tram baru di Paris.

Dibawah ini ada juga foto-foto tempat-tempat yang kita lewatin. Sorry kalau foto-foto di dalam museum branly banyak yang blur, karena di dalem museum, dilarang foto pake kamera. Jadi saya motonya ngumpet-ngumpet, gak pake flash.


Serius di dalam RER B


Gedung dari seberang.. cantik juga


deket kan dari eiffel?


Wilujeng Sumping di Museum Branly


ada ruangan namanya Levy Strauss


Museum ini didominasi dengan warna merah

arsitektur moderen

arsitektur luar

arsitektur luar

tampak luar

Taman cahaya sekitar Museum

salah satu koleksi museum

koleksi kaen sumba

perhiasan dari sulawesi
4 Replies

megalith dari abad 1

suasana dalem museum

ini gedung apa ya?

Api Ladi Di? Nggak ah?!


Tramway dan tramnya

body tram

di dalem tram

dalam tram, luas.


Cité Universitaire

Cité U

Cité U

DSCN4021.JPG

DSCN4022.JPG