Showing posts with label ngaco-ngacoan. Show all posts
Showing posts with label ngaco-ngacoan. Show all posts

Thursday, 3 January 2008

Salah Satu Alasan, Kenapa Kita Bayar Pajak Mahal

Tadi malem sekitar jam 7-an, tau-tau kita dikagetkan dengan suara letusan. Ternyata, bunyi datang dari perayaan kembang api, persis di depan jendela. Tumben, sekarang pertunjukan kembang api diadakan juga bulan desember (kan biasanya bulan july), dan lokasinya gak tepat di depan jendela juga. Tapi malam ini semua begitu berbeda.

Dasar langsung kepikiran duit, langsung deh bilang: Oh ternyata ini toh, alasan kita bayar pajak mahal bener tahun 2007 ini: karena bakal ada pertunjukan spektakuler menyambut natal (selaen juga pasar natal di balai kota). Tinggal di Perancis, sarat dengan bayar pajak yang aujubile... sekitar bulan september sampai akhir oktober, kita diberatkan dengan tagihan 3 pajak, yang lumayan bikin kita blenger lah..hehe. Dan konon, kota tempat saya tinggal, pajaknya emang lebih tinggi dibanding kota-kota tetangga lainnya (menurut Harian Metro, Essone dan Calais - Normandie mengalami presentase kenaikan pajak yang sangat besar selama lima tahun belakangan ini). Padahal sih, fasilitas kota kita ya biasa-biasa aja, umum, seperti: stasiun kereta RER C, beberapa bus non RATP - jadi gak rawan mogok kerja, antar jemput ke stasiun kereta (shuttle bus yang mayan nyaman gitu deh - tapi tetep bayar 0.15 cent dan waktu tunggunya lamaa bener), perpus umum, taman-taman, trotoir yang jadi cantik di pusat kota, dan ini dia yang bikin gue bengong: stadion sepak bola (yang letaknya gue juga gak tau pasti di mana). Buset dah, gue kagak pernah maen bola, gue kena getahnya juga suruh biayain..Apes! Besok-besok gue gabung club sepak bola daerah gue deh, biar bisa ikut memanfaatkan pajak yang telah dibayar.

Dan ini dia yang bikin mahal, gue rasa: pertunjukkan kembang api yang diadakan tiap tahun (setahun sekali - tapi tahun ini udah dua kali), dengan catatan, yang tadi malem lebih spektakuler, daripada yang udah-udah.

Dan tau aja tuh si Pak walikota, gue selama ini misuh-misuh suruh bayar pajak, eh itu pertunjukan kembang api ditaroh persis di depan jendela apartemen, biar bisa menghibur gue yang sedang bermuram durja, dan nginyem sepanjang empat bulan dari bulan September sampe sekarang gak sembuh-sembuh.. hehehe.

Untung, tahun depan, Pak walikotanya ganti, kan dia yang bikin kebijaksanaan-kebijaksanaan bikin kantong warga memble. Konon, kota tempat gue tinggal, mayoritas adalah orang-orang dari partai Sosialis. Tapi ternyata, si Pak walikota ini, adalah orang partai kanan, alias UMP. Untuk pemilihan tahun depan, UMP tidak akan lagi menurunkan si bapak ini sebagai kandidatnya, karena dapat dipastikan bakal kalah, akibat kebijaksanaan-kebijaksanaannya yang tidak populis itu.

Bisa jadi kembang api ini dibikin dashat karena si bapak itu mau perpisahan..hehe.. Yah, sudahlah.. selamat jalan aja pak. Saya tau bapak baik sekali dalam membantu saya mendapatkan CdS (eh iya loh, dia emang baek, ramah, sangat suportive kepada warganya yang terdiri dari beragam warna), tapi isi kantong lebih penting ternyata ya Pak..hehe.

Ya sutralah, ini akhirnya saya posting aja foto-foto kembang apinya, yang dibakar dari duit warga. Lumayan berbagi keindahan sama temen-temen di MP daripada gue berbagi kemanyunan melulu..hehehe. Enjoy!

Yang mengabadikan, ya mas gorilla.


1

2

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

Apa Sih Yang Kurang Dari Pariwisata Kita?

Hari ini guru di sekolah, banyak banget berbicara tentang Malaysia dari segi tourism, mengapa mereka sangat hebat sekali dalam pariwisata, dan menduduki peringkat yang lumayan tinggi dalam hal index pariwisata di dunia (kerentanan mereka terhadap industri pariwisata dilihat dari bagaimana negara itu menangani keadaan pariwisata di negaranya, hal ini dilihat dari beberapa faktor, antara lain masalah regulasi pariwisata, kelengkapan infrastruktur atau bagaimana masyarakat suatu negara menerima dengan baik wisatawan asing). Indonesia, menduduki urutan ke-60, melampaui India, Afsel, dan beberapa negara asteng lainnya. Index pariwisata ini diterbitkan oleh organisasi dunia dalam bidang Ekonomi, yang berpusat di Davos, Swiss (itu loh, yang tahun lalu Angelina Jolie dan Brad Pitt secara khusus dateng ke sana, dan langsung bikin heboh dunia paparazzi).

Nah, sampailah si guru, menceritakan bahwa iklan pariwisata Malaysia sangat menarik dan menggoda. Sayangnya (atau untungnya), waktunya gak cukup, jadi kita gak sempat melihat iklan yang dimaksud. Tapi saya udah kebayang, kira-kira bagaimana rupa iklan itu. Trully Asia, yang digambarkan dengan orang dari berbagai suku bangsa, dan mungkin banget ada orang dayaknya. Sempet terlintas di kepala saya, lagu rasa sayange dan juga reog ponorogo yang minggu lalu katanya diklaim sebagai barongan mereka.

Secara khusus, setelah bubaran kelas, saya datangi guru saya, dan saya tanya, mengapa dia pilih membahas malaysia hari ini, dari sekitar 124 negara yang diteliti index pariwisatanya, mengapa mereka? Kira-kira saya sudah tau apa jawaban dia. Katanya, dia sangat tertarik dengan iklan yang ditampilkan di media-media, seperti di majalah, CNN, de el el Juga banyak sekali list yang diberikan oleh UNESCO terhadap kebudayaan mereka (masa iya sih?). Saya jelaskan, memang kami mengakui bahwa mereka memang sangat jago menjual pariwisata mereka, sangat diacungi jempol. Kemudian saya juga bercerita, tentang masalah promosi pariwisata mereka yang banyak menyinggung perasaan bangsa kami. Profesor saya cuman mengangguk-angguk. Rasanya saya seperti orang bodoh deh, mencoba menjelaskan suatu kenyataan, tapi sepertinya orang tidak terlalu peduli.

Saya tidak sirik dengan Malaysia, kalau mereka memang kaya akan sumber pariwisata, biarlah mereka menjadi terdepan. Setidaknya kami bangsa Indonesia tidak pernah mengkritik cara Thailand mempromosikan daerahnya yang memang ok berat, dan karena mereka tidak pernah merugikan bangsa kita kan? Atau Philippina yang tidak juga mengklaim hal-hal tertentu, padahal budaya kita kan juga banyak kesamaannya dengan mereka. Yang paling tidak saya suka, adalah bagamana orang lain mengklaim bahwa sesuatu adalah hasil pemikiran mereka, kemudian membuat kesan kalau hanya di daerah mereka lah hal itu dikenal dan lahir di sana.

Oke, saya tidak akan berpanjang-panjang tentang hal yang sudah sangat sering dibahas ini, karena tidak banyak gunanya kita menyalahkan mereka. Yang penting bagaimana kita melihat diri kita, dan membangun apa yang perlu ada, atau diperbaiki.

Sesampainya di rumah, saya buka situs berita Le Monde untuk mencari berita-berita terkini, dan lucunya, di situ ada iklan tentang pariwisata Malaysia, menggunakan bahasa perancis. Hebat, dalam hati saya. Mereka benar-benar all out terhadap pariwisata mereka, termasuk mengenal benar target mereka, yaitu orang perancis yang gak bisa bahasa lain selain bahasa perancis. Di dalamnya ada tentang orang dayak, makanan, de el el. Trus di mana dong, iklan-iklan pariwisata kita, ulasan tentang rendang dalam bahasa perancis, misalnya? hehe.

Saya pernah secara khusus mencari iklan pariwisata Indonesia di youtube, dapat! Iklan itu pakai bahasa inggris, dan entah apakah iklan ini pernah ditampilkan di CNN atau di expo-expo international? Iklan berdurasi panjang ini sepertinya tidak untuk ditampilkan di TV, jadi ditampilkan mana dong? Di Le Monde, saya tidak pernah lihat deh iklan pariwisata Indonesia, meski kalau di kedutaan RI Paris sih pernah lihat juga ada brochure-brochure, tapi orang kan harus secara khusus datang ke sana bukan?

Rasanya lemes deh, sadar bahwa kita memang masih harus beres-beres atau cuci piring. Untungnya, walaupun belum maksimal hasilnya, pemerintah kita sudah mulai sadar apa itu marketing negara kita (kayaknya sadarnya udah lama sih, semenjak visit Indonesia year berpuluh-puluh tahun yang lalu, lupa kapan pastinya..hehe). Ternyata tahun depan, bakal ada lagi tahun visit Indonesia Year 2008.

Coba lihat situs ini: http://www.my-indonesia.info/index.php. Coba juga lihat foto-fotonya yang dibikin oleh agen RIA NOVOSTI, kalau saya tidak salah, ini adalah kantor berita resminya Russia. Apakah kita pernah tahu tentang keberadaan situs ini? Kalau saya tidak khusus mencarinya, saya tidak akan pernah tau. Huuu... saya ini orangnya ignorant sekali ya ternyata.... apa pemerintah yang kurang promosi?

Saya juga mencari tahu tentang situs budaya UNESCO dan bandingkan dengan negara-negara tetangga. Untungnya Indonesia masih punya lebih banyak hal yang termasuk dalam list UNESCO, walaupun bila dibandingkan dengan Italia atau Perancis, Indonesia kalah jauh banget, tapi setidaknya ini cukup membanggakan saya (sedikit bisa bernapas lega kalau apa yang dikatakan profesor saya tentang negara tetangga yang saya sebutkan sebelumnya, tidak benar adanya..).

Saya pernah baca, miss pariwisata Indonesia tahun 2006, (lupa namanya siapa) berkata: "Sebetulnya kesuksesan pariwisata Indonesia bukan hanya bergantung kepada pemerintah aja loh, tapi juga seluruh lapisan masyarakat". Hmm.. kesannya emang kata-kata dia orba banget sih, tapi setelah saya renungkan, bener juga loh. Kalau kita cuman menuding pemerintah gak komit dalam menjalankan pariwisata, dan kita terus berlaku seenaknya terhadap wisatawan (tidak kooperatif) yah percuma juga itu peraturan digolkan ditingkat atas kalau kitanya juga gak komit untuk menjalankannya. Saya pikir, keberhasilan Indonesia bukan hanya usaha satu golongan saja, tapi juga usaha setiap orang.

Saya gak mau ah berteori-teori, saya sendiri gak punya solusi yang jelas nyata dan jreng hasilnya. Tapi sekiranya, saya tidak akan pernah berhenti mempromosikan negara saya kepada khalayak ramai, ke semua orang yang saya tahu, walaupun saya tahu, wisman-wisman yang datang ke Indonesia bakal terus kecele merasa terus diplorotin. Tapi saya gak mau putus asa, karena saya pikir, orang Indonesia bisa belajar dengan langsung praktek. Kalau menunggu mereka berubah, ya kapan? Gimana kalau wisman terus datang, dan orang Indonesia jadi "dipaksa" belajar berubah?

Ah, maaf kalau saya terlalu nasionalis terhadap Indonesia. Temen Phil saya di kelas yang lama tinggal di My aja sering kali membanggakan negara itu, dan sudah sangat hopeless dengan keadaan negaranya sendiri, makanya dia sering kali godain saya setiap saya bilang, saya gak suka dengan negara tetangga kami itu.

Bukan dari segi saya tidak suka orang-orangnya, tapi saya hanya tidak suka cara mereka seperti anak kecil yang manja, yang apa-apa mau diaku miliknya. Kalau soal mereka lebih maju, memang kenyataannya seperti itu, ya mau apa? Tapi yang jelas, rasa marah kalau budaya kita diambil negara lain, tidak ada hubungannya dengan masalah sifat orang-orang di negara itu. Saya tidak membenci orang-orangnya, tapi tidak menyukai negaranya.

Teman Phil saya ini, sering kali bilang ke saya, kalau dia ingin sekali pensiun di My atau bikin investasi di negara itu, karena dia cinta banget dengan My. Dia sering ngajak saya. Hehehe.. saya mah ogah deh mbak, bukan negara gue juga sih, kalau saya bisa dan mampu sih, mendingan nolongin bangsa sendiri aja deh yang jelas-jelas bikin ortu atau generasi penerus bangga. Kesannya saya emang terlalu banyak omong, tapi entah kenapa, saya memikirkan keponakan kecil saya yang imut-imut, apakah nanti kalau dia sudah mengerti tentang dunia, apakah masih ada sesuatu di Indonesia yang bisa dibanggakannya? Jangan-jangan dia malah malu jadi orang Indonesia, seperti generasi-generasi seumuran saya.

Menurut teman-teman, apa sih yang kurang dari kita? Apakah ada yang bisa kita bantu untuk menolong Indonesia? Walaupun hanya sedikit tenaga, tapi kan lebih baik daripada tidak pernah sama sekali....

Yang ini pesan yang saya tulis di salah satu blog saya (yang bahasanya bukan bahasa indonesia.. rennnn ca na nya sih gitu.. hehe.. tp saya males banget update), yang saya tujukan untuk para francophone untuk kira-kira mencari tau, apa sih nama-nama di bawah ini.... Ada yang mau membantu saya menambahkan daftarnya? Silahkan loh... saya sangat butuh info, walaupun ini cuman setetes air di lautan...

Sunday, 21 October 2007

Dibikinin Tas Sama Mas Gorilla

Besok, mulai lagi deh yang namanya sekolah setelah dua minggu libur. Gue yang bokek berat, pengennya bawa rantangan ke sekolah biar bisa makan siang cara hemat. Tapi kok malu ya, bawa-bawa rantangan yang dipamerkan gitu ke semua orang. Apa kata dunia ngeliat ini cewek asia banget, trus nenteng-tenteng rantang, baik di sekolah maupun di angkot paris.. halah...

Gue minta tolong sama suami gue, untuk bikinin tas, dari bahan yang kita punya. Tasnya mirip-mirip aja sama tas yang dia pernah bikin sebagai sarung tenda camping kami. Dia setuju.. sore tadi, dia langsung tuh bikinin tas pesenan gue, pake mesin jahit yang kita punya. Gue request tasnya, bentuknya harus tas tentengan (tote bag istilah modenya.. cie elah), bisa masuk rantangan dan termos minuman gue yang ekologis itu.

Jadinya ya seperti ini: Tadaaa...



Asli deh, LV LV aja mah.. kalah banget sama tas bikinan dia.. hehehe.. Keren kan?
Tapi ngomong-ngomong, ini tas bikinnya seadanya banget, lihat gimana design, motong bahan dan ngejaitnya dong.. ancur banget. Coba aja intip dalemnya, jaitannya ancur banget. Dia aja gak pake ukuran pasti bikinnya, asal gunting gitu. Tapi gak apa-apa, paling nggak, cukup stylish deh, buat nutupin rantangan gue.
rantangan dan botol minum gue masuk di dalemnya

Dan kalau gue gak lagi pakai baju kantoran (gue kuliah wajib pakai baju kantoran), tas ini macthing banget sama jeans gue.. Hahahaha...

Thanks beib!!! Love you as always!

Thursday, 30 August 2007

Ketika Metro Belom Datang

Setelah di posting sebelumnya saya bilang kalau orang Paris itu banyak yang cuek, tidak ramah dan sangat individualis, kejadian ini mengingatkan pada postingan saya itu . Kemarin malam, saya dan suami lagi di peron stasiun Strasbourg-St. Denis, nunggu metro datang.

Saya menunggu sambil duduk, dan di samping kiri saya agak jauh dikit, duduk pria kulit hitam sekitar umur 20-an, yang sibuk mendengarkan lagu dari MP3 playernya. Tampaknya dia tidak sedang menunggu metro, tapi hanya ingin duduk santai saja di tempat duduk di peron. Diantara jarinya, terdapat lintingan ganja yang besar. Kalau udah gini, kita tau deh, kira-kira orang model apa pria ini. Di stasiun metro, dilarang keras merokok, apalagi ganja bukan barang legal di sini.

Tak lama, datang seorang ibu, menggendong backpack yang besar bersama anak laki-lakinya yang berumur 5 tahun-an. Sepertinya mereka turis, karena memang tadi malam di metro, isinya turis semua dengan koper maupun tas besar. Paris bulan agustus biasanya malah gak ada orang Parisnya, udah pada ngacir keluar kota semua. Si ibu duduk di antara saya dan pria ganja tadi. Sedangkan si anak pilih duduk di samping kiri pria tersebut. Si ibu melihat jam yang terpampang di plang metro, dia pun mulai berkata, "Hah? Sudah jam 21:47! Masa sih? Gak salah?"

Saya pikir dia ngomong sendiri, jadi saya diem aja. Fyi, di metro Paris banyak orang gila yang sering ngomong sendiri, jadi lebih baik pasang gaya budek atau gak peduli. Eh ternyata suami saya menjawab, "Iya bu, memang jamnya gak salah!" Oh jadi si ibu itu emang ngomong ke suami saya, sehingga dia berkewajiban menjawab. Saya pikir cuman salah satu orang aneh di metro...hehe.

"Kira-kira berapa lama ya dari sini ke Montparnasse?" tanyanya lagi.
"mungkin 15 menit bu!" jawab suami lagi. Si ibu langsung membuka peta metronya, dan menghitung jumlah stasiun antara Strasbourg St. Denis dan Montparnass. Lanjutnya lagi, "Wah, ada 11 stasiun loh.. Jauh amat!!!" celetuknya.
"Oh ya mungkin 20 menitan-lah", jawab suami.
"oh.. ok", kata si ibu.

Sementara itu, anak laki-laki si ibu ini, mengeluarkan permen dari kantongnya, dan mulai membuka percakapan dengan pria yang sedang pegang ganja tadi.
"Mister, anda mau permen?" tawar si anak dengan suara innocentnya.
Si pria ganja tadi kaget tau-tau ada yang nawarin permen. Dia salting, sambil senyum-senyum dia buru-buru masukin ganjanya ke kantong celananya.
Si pria menolak halus, "Oh, tidak, terimakasih!" Saya dan suami udah mau ketawa cekikian ngeliatnya. Si pria keliatan banget malunya.

"Anda sudah makan?" tanya si anak kecil tadi.
"Oh sudah, sudah!" jawabnya singkat, masih salting dan senyum-senyum. Si pria melepas earphonenya, agar dapat mendengarkan lebih jelas ocehan si anak. Sepertinya anak ini emang cerewet alias doyan ngoceh.
"Anda makan apa tadi?" Huahaha.. ini anak lucu banget, polos dan mau tauuu aje, berani banget. Gak tau aje, yang lagi diajak ngobrol, doyan ngeganja..hehehe..... Saya rada penasaran, anak itu tanya apa aja, sepertinya emang dia pengen banget tau urusan si pria ini. Tapi sayang, gak lama metro no. 4 pun datang, dan kita bergegas masuk.

Saya sempet melihat anak tersebut melambai kepada si pria itu
"Au revoir monsieur! (sampai jumpa mister)". Si pria tetap di tempat duduknya, dengan masih tersenyum, membalas lambaian anak tadi.

Saya dan suami cekikan ngeliatnya. Kesimpulan kami: beneran, si ibu dan anaknya ini emang bukan orang Paris. Hampir gak mungkin orang Paris mau tanya-tanya atau memulai percakapan. Rasanya kalau memulai percakapan malah dianggap aneh, dan orang Paris takut kalau buntut-buntutnya malah ditodong.

PERCAKAPAN ANTARA DODOL DAN DUREN (PART 3)

Suatu malam Duren pulang dari kantor, membawa batere motor baru (baterenya yang baru loh, bukan motornya), untuk di recharge. Setelah 15 menit kutak katik, ternyata batere gak menunjukkan tanda-tanda ter-recharge. Duren mulai ngamuk-ngamuk gemes, "Duh kok gak bisa di recharge sih?!!! Mana salahnya sih?!"

Dodol yang gak ngerti apa-apa, mulai aksi sok tahunya. Dipandanginya itu batere, ada tulisan FRANCE yang lumayan besar di badan batere, kemudian dia berkata, "Oh mungkin karena buatan Perancis, makanya gak berfungsi?" mulai deh Dodol ngelunjaknya. Si Duren bete, trus nyahut, "Masih mending buatan Perancis, coba kalo buatan Indonesia, bukan 'mungkin' lagi, tapi UDAH BISA DIPASTIKAN gak akan berfungsi!".

Dodol keqi denger jawaban Duren, kok tumben si Duren jago ngegocek, apalagi negara tercintanya pakai acara dikatain (ya iyalah, yang mulai ngocol siapa duluan, harus bisa terima resikonya dong 'Dol!).

Bukan dodol, kalau ngaku kalah atau gak ngeyel. Maka, dodol mulai deh ngoceh gak jelas, "Ah elah.. elo 'Ren, sensi amat, baru juga dikatain candaan gitu doang, keluar deh tuh nasionalismenya!"
"Ih siapa yang nasionalis?! Gue kan cuman jawab balik omongan elo 'Dol."

Iya juga sih, pikir Dodol, perasaan dia deh yang nasionalis tengil. Tapi tetep, gak mau kalah, "Ye... gak ngaku tuh kalo elo nasionalis!!!" jawab Dodol sambil berlalu.
"Auk ah!!! Ngomong deh lo sama tatakan piring!!" jawab Duren sambil menutup mukanya dengan tatakan piring.

Dodol pun nengok ke arah Duren. Betulan bo, tatakan piring! Kumel pula! Sial!!! Dodol cuman bisa nginyem keqi.

Tring (suara munculnya ide di kepala Dodol)..
Buru-buru, diambilnya kamera di atas meja....Jepret!

Nah, sekarang siapa yang bete karena muka culunnya dipasang di net?


Seorang Lelaki Bermukakan Tatakan Piring

WHICH COUNTRY IS SO PROUD TO BE ON TOP OF THE SURVEY?

This is the result of a survey regarding to sexual activities in 26 (or six, in some questions) countries, held by the request of Durex. Hmm.. I wonder which country is on the top of the survey.
Sorry it's in french. Well maybe this is a good reason for you to learn french? hehehe...

Please click here for the link.

PERCAKAPAN (KHAYALAN) ANTARA DODOL DAN EMAKNYA

Percakapan terjadi di telepon:

"Mak, minta resep kolak campur bali dong?" pinta Dodol.
"Hah?! Ngapain sih nak, kan kolak Bali gak enak? Isinya cuman dicampur-campur gak jelas!" jawab emak.
"Ya biarin aja, Gue suka kok, kan sering nyoba di Tabanan, diajak tante Eka di warung pinggir jalan. Minta resep tipat sekalian ya mak?"
"Hah?!!! Sama aja, tipat Bali gak enak juga!!"
"Yeee emak.. orang Bali bukan sih?!!! Makanan bangsa sendiri dibilang gak enak?" jawab Dodol, sambil tutup telepon dengan sebel.

Grrrr.... ngambek ah!

BILA KEYBOARD RUSAK (DAN LAGI BOKEK BERAT)

Udah belakangan MP kayaknya kacau ya.. banyak postingan orang-orang yang gue ga dapet, atau kalaupun dapet, ya telat bener. Postingan gue kemaren-maren juga gitu.. gak mau muncul, trus kalau ada komen, juga gak ditulis komen baru.. jadi gue gak tau kalau ada update. Rada bete sih.

Belom lagi ditambah keyboard yang lagi rusak.. Umur belom tua-tua amat, baru dua tahun! Umur segini mah lagi centil-centilnya buat keyboard. Katanya sih, umur keyboard yah 10 tahunan.

Mungkin karena si pemakai, makainya terlalu kasar. Karena sering pengen jawab cepet kalo lagi chat, atau ngetik cepet 10 jari, otomatis itu keyboard selalu dihentak-hentak. Jadilah umurnya dipercepat. Kalau ngetik, kadang ada beberapa karakter yang gak keluar. Mo ganti baru, lagi bokek ah. Ya akhirnya dibersihin aja deh, kali problemnya ikut ilang kalo debunya ilang.

Kata si tukang bersihinnya, walah.. keyboardnya kotor betul sih mbak? Ya ketauan deh joroknya, bangsa chatting sambil makan, soalnya banyak remah-remah roti di sela-selanya .. haha. Kebayang, kalau keyboardnya warna putih, kali udah dekil banget tuh sekitaran tutsnya.. hehehe.

Sama tukang servisnya, tuts dan rangka keyboard di cuci dengan bersih satu persatu, trus di rangkai ulang. Untung dia rada apal tuts mana yang ditempatkan kembali, hehehe.. jadi asemblingnya bisa bener, kalo nggak? Ntar gue nulis "tau" jadi "tai"..haha.

Baru tau, keyboard tuh dalemnya gini toh..

Tapi udah dibersihin pun.. gak ngaruh tuh... keyboard masih suka rusak.. Nasib-nasib.. kayaknya emang harus beli baru deh.... snif....


tuts

ada rangka keyboard di rak piring

karpetnya keyboard

untuk transmit datanya.


keyboard setelah dirakit lagi

BULAN INI DUA TAHUN YANG LALU



Sepasang kekasih berumur 20-an, duduk di dalam Café Oh La La di Bandara Cengkareng. Saya duduk dekat sekali dengan mereka, sehingga saya dapat mengamati wajah mereka yang murung sekaligus mendengarkan percakapan mereka. Mereka bercakap-cakap dengan pelan, tapi wajah sedih mereka mengundang tanda tanya setiap orang yang menatap mereka. Yang wanita menangis dalam diam, sedangkan yang laki, berusaha menahan air matanya jatuh ke piring croissantnya.


Kemudian, si wanita berkata, "Kapan kita akan bertemu lagi?"
"Aku tak tahu pastinya. Tapi aku tau bahwa waktunya segera", jawab prianya.
"Aku akan mengunjungimu di Perancis tahun ini juga. Akan kuusahakan dengan sebisaku untuk mendapatkan visa, dan menyusulmu di sana bulan September!", sambung si wanita.
"Kalau begitu, aku tunggu kamu di sana. Kita akan bersama-sama lagi untuk selamanya!"
Mereka tersenyum kecut, kemudian terdiam. Mungkin mereka tahu kalau tidak mudah mendapatkan visa hari gini. Ada perasaan putus asa. Pelayan café, orang-orang yang lalu lalang dan pengujung café banyak juga yang curi-curi kesempatan menatap kepada mereka, ingin tahu drama yang sedang terjadi. Pilu juga rasanya mendengar dua kekasih yang hendak berpisah ini. Rasanya saya juga merasakan kesedihan yang melanda si wanita.

Kemudian yang wanita berkata, "Sebaiknya kamu masuk ke dalam. Aku tidak tahan lagi rasanya menahan sakit. Aku ingin kesedihan ini berlalu saja, toh kamu akhirnya akan pergi juga sebentar lagi!"

Si lelaki setuju dan mengemas barang-barangnya. Mereka pun berpelukkan kemudian si lelaki berkata, "Sampai jumpa bulan September!". Si wanita terdiam. Kemudian mereka pergi ke arah yang saling berlawanan. Si wanita pergi dengan bergegas tanpa melihat kebelakang. Si pria sempat terdiam sebentar di tempatnya, kemudian berjalan ke arah sebaliknya. Ia sempat menoleh kebelakang, ke arah wanita itu. Beberapa saat setelahnya, si wanita gantian melihat ke belakang, mungkin dia berharap kalau si Pria masih ada di sana. Tapi si pria sudah masuk ke dalam terminal. Ada rona kecewa pada muka si wanita. Tapi tidak ada yang dapat menghentikan waktu untuk berjalan.

Bersambung... hehehehe.. keqi gak sih?

Foto Nadal dalam Media

Bukan karena tampang gantengnya saya pasang foto Rafael Nadal, petenis spanyol kelahiran tahun 1986, di foto albumku. Tapi lebih kepada lucunya foto-foto yang di muat di dua media cetak, Matin Plus dan Le Point, yang meliput kemenangannya dalam pertandingan bergengsi Roland-Garros, Paris. Dalam pertandingan ini, dia mengalahkan petenis nomor satu dunia asal Swiss, Roger Federer, dan kembali menjadi juara selama tiga tahun berturut-turut.

Coba perhatikan baik-baik foto di bawah ini...


beberapa detik setelah menang

Mengembalikan Bola Federer

HUBUNGAN ANTARA RAMBUT HITAM DAN KESAN RUPAWAN VERSI SAYA SENDIRI



Dari jaman SMA, saya sering sepakat sama teman saya, kalau kita senang sekali dengan cowok berambut gelap/hitam, dengan alis mata yang tebal. Kesannya gimana gitu, macho (eh ini macho dalam artìan bhs indonesia loh, bkn macho dlm bhs prancis). Yg ada di otak kita waktu itu (if we had any brains..hehe), adalah sosok Chris Cornell, vocalis band favorite kita jaman dulu; band Seattle Sound: Soundgarden yang sekarang udah gak ada kabarnya lagi, alias bubar. Chris Cornell itu bikin band sendiri namanya apa ya, lupa, mayan terkenal kok di tahun lalu..hehehe... Tapi itu loh, penyanyi yg bikin soundtracknya film James Bond yg terakhir; dah rings a bell? Ganteng & kemampuan musikalitasnya OK khan?!.

Tolong koreksi bila yg saya tulis ini salah. Bhs perancis tidak terlalu jelas membedakan rambut yg bagaimana yg pirang atau gelap. Untuk rambut coklat gelap s/d hitam, akan dianggap rata: Coklat (brun). Untuk rambut coklat muda (honey) s/d pirang, semuanya dipukul rata, dibilang pirang. Sedangkan yang merah dibilang warna rambutnya Châtaine. saya pribadi, membedakan semua2nya. Dan menurut saya, warna rambut yg oke untuk pria dan wanita adalah yg hitam pekat model iklan sunslik, walaupun soal gelombang atau lurus sih terserah aja ya (soalnya saya ikal sih rambutnya..hehehe, mau gak mau belajar menerima apa adanya aja).

Kurang lebih, saya juga selalu mencoba mencari alasan, kenapa rambut gelap cenderung hitam sering kali menjadi alasan/ukuran pribadi dalam mencari 'teman jalan'. Ini emang masalah selera, karena banyak juga teman wanita indonesia yg saya kenal, tertarik bgt dengan mata biru dan rambut pirang, dengan alasan: karena features yang sangat berbeda dengan ciri khas orang Indonesia pada umumnya.

Beberapa kali saya pacaran dengan pria berambut pirang, mata biru/kuning/merah/hazel (beneran loh kuning atau merah), memang gak ada masalah sih. Cuman ketika saya menyentuh rambut mereka yg keemasan dengan jemariku, ada kalanya saya membatin, "I wish that he had black hairs". Toh akhirnya kami pun berpisah karena masalah gak jodoh (gak mau pake alasan "beda prinsip" ah, dah terlalu cliché, dipake melulu sama artis Indonesia kalau mereka cerai, ..hehehe), jd bukan karena masalah warna rambut sebetulnya. Saya jg gak percaya dgn anggapan orang yg memiliki rambut pirang itu bodoh-bodoh seperti anggapan banyak orang barat. Ini cuman masalah stereotypes, yg menyetir kita pd hal-hal yg tidak punya dasar argumen yang jelas. Stereotypes itu mudah untuk mereka yg malas mikir dan biasanya mau gampangnya aja, terima jadi apa yang udah secara umum berlaku.

Sedikit menjawab pertanyaan saya; menurut survey (maaf sumbernya gak solid, saya lupa baca dimana survey ini), wanita di dunia ini cenderung memilih pria dengan rambut hitam, dimana pria-pria itu dianggap memberikan kesan (eh garis bawah ini ada maksudnya loh) rupawan, misterius dan laki banget (bukan lucky banget...hehe). Ini juga alasan mengapa tokoh super power dari komik macam Superman atau Batman berambut hitam padahal hitam adalah warna yang paling representatif untuk menggambarkan karakter seseorang. Untuk perempuan, yg paling diminati adalah mereka yg berambut pirang (wah cewek Indonesia gak termasuk dong?!). Cewek berambut pirang memberikan kesan sexy dan fun. Tp saya jg pernah loh mengidolakan pria berambut pirang macem Brad Pitt atau Stephen Dorff (silahkan google up). Tapi saya gak favorite tuh dengan Mark Paul Gosselar bintang Saved by The Bell itu.

Beberapa tahun yang lalu, pertanyaan dalem hati saya mulai diberikan suatu justifikasi, suatu alasan pembenar versi saya sendiri, yg tentunya hanya berlaku untuk saya sendiri. Suatu hari, saya nonton acara dokumenter di stasiun TPI, Telepisi Pendidikan Indonesiah, tentang suatu karakter singa-singa afrika. Suatu grup peneliti, sengaja datang ke Afrika untuk meneliti, sikap perkembangbiakan para singa, termasuk bagaimana para singa betina memilih pasangan hidupnya, atau pejantan mereka. Hasilnya cukup mencengangkan (at least bagi saya). Tentulah teori natural selection dari mr. Darwin memegang peranan penting.

Para peneliti mendatangkan dua boneka singa dengan pose siap menerkam (ini asli boneka; lembut dan fluffy gitu deh, cuman penampilannya cukup solid, gak goyah kena tiup angin lah ya) dalam ukuran dan muka yg sama persis dengan singa jantan (yg rambutnya gondrong itu loh). Salah satu boneka singa tsb dipasangkan rambut palsu singa dengan warna terang, alias agak coklat muda. Yg lainnya dipasangkan wig warna gelap nyaris hitam. Kemudian keduanya ditaruh secara tidak jauh satu dengan lainnya, ditengah padang rumput habitat para singa betina. para peneliti mengamati dari jauh. Tak lama, kita lihat, banyak sekali betina-betina berkumpul mengelilingi pejantan yg berambut gelap, sedangkan singa yang pirang, gak ada yang ngedeketin, alias dibiarkan melongo melompong, gak laku. Betina-betina tsb tentulah tidak tahu kalau singa jantan berambut hitam di depan mereka adalah boneka. Setengah jam berlalu, sekitar lima betina tetap pasang aksi centil di dpn boneka singa rambut gelap. Para ahli pun akhirnya berkesimpulan bahwa binatang juga punya cara khusus dalam memilih pasangannya. Binatang selalu memilih mereka yg kuat dalam memilih pejantannya dan faktor fisik itu sangat penting. Warna rambut gelap seakan menandakan rupa yang kuat yang dapat merepresentasikan harapan akan kelangsungan hidup suatu ras binatang itu. Ujung-ujungnyanya yah masalah Survival of the Fittest theori darwin juga yang megang peranan.

Kembali ke pertanyaan saya diatas, setidaknya program telepisi tersebut memberikan justifikasi kepada saya, atas perilaku yg kecentilan kalau liat pria berambut hitam di metro. Pada dasarnya saya hanyalah "singa betina yg normal" yang cenderung memiliki ketertarikan besar kepada pasangan yang dianggapnya ideal..hehehe..... meski cakar saya masih harus dibuktikan - saya gak demen piara kuku panjang tuh, dan lagi pula zodiac saya bukan berlambang singa, tp pasangan hidup saya kebetulan iya.

Anyweyyy itu cuman sekedar sharing, silahkan mengambil hikmah atau menyimpulkan sendiri, apakah survey dan penelitian diatas cocok untuk masing-masing kebanyakan orang. Tapi kayaknya sih, tetep aja yah, jodoh itu ditangan Tuhan. Terserah idealnya gimana, tapi kalau dapetnya yang gak sesuai dengan kriteria awal, ya mo gimana lagi..hehehe... Saya lagi nyari-nyari dokumenter itu, dan jg dokumenter National Geography yang saya pernah tonton di tahun 2005, tentang alasan mengapa orang yg rupawan, cenderung bernasib lebih baik. What a theory!

BTW, umur singa itu berapa tahun ya, dan kira-kira sampai berapa lama mereka memiliki rambut merka? Soalnya si mas singa sekarang rambutnya pada putih semua, ketombean berat, sebagai pertanda kebotakan. Wah, kalau singa jantan gak ada rambutnya, kan jadi mirip singa betina? Hehehehe... Jadi pengen nonton Lyon King nih... Hakunamatata.

SAYA YANG BODOH ATAU MEREKA YANG SALAH?

Orang Perancis emang suka ngomongin makanan di meja makan. Kalau orang inggris bilang, agama mereka adalah sepakbola, orang perancis akan mengatakan bahwa agama mereka adalah makan dan makanan, karena mereka tidak berhenti-berhentinya ngomong soal makanan. Mereka sangat suka acara makan bersama (di kantor juga), yang diikuti dengan embel-embel se régaler sebagai verbe yang sering digunakan dalam menandaskan kegiatan yang berhubungan dengan makan. Undangan makan siang atau malam, di Perancis bisa berlangsung lebih lama daripada pidato Suharto in his heyday, maka siap-siap bila anda diundang makan oleh orang perancis (yang amat sangat mungkin sering terjadi), saya sarankan, jangan makan pagi/siang dulu sebelumnya, dan siapkan subyek obrolan dengan topik-topik yang sedang in, karena acara makan bisa jadi berlangsung hingga 6 jam!!! (Saya seringkali terserang pusing-pusing dan sakit pinggang begitu acara makan selesai). Wajar juga kenapa orang Perancis doyan banget makan dan ngomongin makanan, karena macam dan rasa makanan dari Perancis benar-benar beragam, dan seringkali dijadikan simbol sebagai makanan tingkat tinggi, karena tampilannya yang halus dan (kesannya) mahal.


Oke, cukup paragraph pembukanya yang hampir gak ada hubungannya dengan judul yang sudah saya cantumkan diatas. Kemarin, saya menemukan situs yang menurut saya agak aneh.... Saya gak ngerti baca tulisan di situs ini:
http://www.baliadvertiser.biz/articles/tokobuku/2005/homestyle.html pada paragraph 3, yang bilang bahwa makanan indonesia itu, yah so so saja, dan kurang variasi?

Ini saya yang bener-bener gak ngerti bahasa Inggris, atau salah menerjemahkan aja sih? Dan apa juga maksudnya, dengan masakan Indonesia, anda menjadi kembali ke realita? Emangnya apa hebatnya makanan dari negeri lain sampai makanan kita dibilang, kadang-kadang, bof saja? Dan entah juga apa maksudnya, mereka mengatakan bahwa selain di Bali, makanan tidak memegang peranan penting dalam kebudayaan. Maksudnya, sebagai saji-sajian kepada dewa setiap harinya atau apa nih? Kok mempromosikan Bali (yang notabene adalah bagian dari Indonesia), tapi sepertinya kurang paham betul dengan kebudayaan Indonesia? Ngomong-ngomong, makanan kita bisa juga loh highly refined.. itu mah tergantung presentasinya aja mas... !!!

Mas Mas, ta' kasih tau ya, orang-orang Indonesia itu paling demen makan, dan ngomongin makanan gak ada habis-habisnya. Orang Perancis selalu ngerasa kalau tandingan mereka adalah orang Cina (bukan orang Thailand seperti kata situs ini), yang gak ada habis-habisnya ngomongin makanan di meja makan, kaget begitu mereka mengenal orang-orang Indonesia yang ternyata adalah tandingan sejati mereka.

Saya tadinya gak terlalu merhatiin memang, kalau kita ini gak setop-setopnya ngomongin makanan. Tapi setelah saya ngantor di kantor lama saya (Jakarta), dimana yang berkantor adalah orang-orang yang gak berhenti-berhentinya mengeksplorasi wisata kuliner dan mencoba resep-resep baru, saya baru ngeh kalau orang Indonesia itu gak abis-abisnya ngomongin makanan.

Scene 1, Jam 8:30 pagi di perpus bawah:
Saya baru saja tiba di kantor, dan melewati ruang perpus di bawah tangga, sudah terlihat beberapa anggota kantor, duduk di meja bundar, makan mie ayam Sugeng, tukang jualan mie ayam asal Purwokerto yang jualan di belakang kantor saya.

Mereka: "Pagi Jackie!!! Sarapan dulu hayu!"
Saya : "Saya udah makan... nggg... (nyium bau semerbak mie Sugeng). Tapi.. boleh lah, hayu...!!!"

Sekertaris kantor datang, dan kami pun menawarkan kepadanya untuk gabung sarapan dengan kami.

Sekertaris: "Ah, saya mau sarapan lontong sayur aja ah hari ini. Saya pesan dulu ya. Jack.. kamu mau pesen jamu si Ayu gak?"
Saya: "Hayu.. boleh..."

Tak lama, orang dari divisi keuangan tiba, bawa gorengan.

Dia: "Hey hey.. selamat pagi.. ada yang mau gorengan?"

Kami pun menyambut dengan bahagia, sambil ngucap, kenyang, tapi masih sempet ada aja yang nyeletuk, "Ntar siang makan apa ya? Ayam Texas atau ayam belakang (kantin ibu belakang-red) ya enaknya?"

"Coba makan di taman lembang yuk, ikan bakarnya enak. Gue ngiler banget deh!"


Scene 2, jam 11:30 di depan ruangan saya
Orang-orang sudah pada ngumpul di depan, mereka sibuk mendiskusikan enaknya makan bareng di mana siang itu. OB kantor udah mau siap-siap dengan bolpen dan kertas catatannya. Gila.. baru jam 11:30, orang-orang udah pada heboh begini, pikirku.

Jam 12:00, kita cabut ke Lembang. Di sana, semua orang pilih kesukaan masing-masing. Ada yang pesen es teler, es kelapa, sambil nunggu datangnya pesenan ikan bakar, cumi bakar kuning, atau somay. Acara makan siang ditutup dengan pisang bakar coklat keju pesenan anak-anak. Makannya rame-rame dong. Sepanjang jam makan, anak-anak gak berhentinya bercerita tentang makanan yang sudah pernah mereka makan di masa lalu, yang ada di piring mereka, dan makanan yang akan mereka makan. Ada yang nyeletuk pernah makan ikan bakar di kaki lima mana lah, yang gak kalah enaknya, murah pula. Ada yang cerita tentang soto di daerah menteng yang cihuy banget untuk dicoba kalau hari jumat pas cowok-cowok lagi pada shalat jumat. Ada yang cerita bedanya mpek-mpek megaria dengan mpek-mpek gloria, samping bank mandiri cikini. Kalau saya, lagi ngebayang-bayangin makan di Kikugawa, resto Jepang paling tua di Jakarta, rasa asli jepang tapi murah, daerah cikini juga. Makan sushi di sana ah kapan-kapan, pikir saya.

Scene 3, jam 16:00
"Andiiiiii... tolong pesenin rujak buah ya!!!", kata seorang kolega kepada OB kami. "Udah gitu tolong dibawain ke perpus lantai 4!"

"Eh ada yang mau nitip yang lain gak, sekalian si Andi mau jalan?!"
Ada yang nitip es kelapa muda, es jeruk de el el.

Dua puluh menit kemudian Andi datang, bawa bungkusan plastik hitam. Telepon pun berdering-dering di tiap ruangan kami, panggilan (undangan) kepada setiap orang untuk makan rujak di perpus. "Ditunggu!" kata si penelpon dengan nada suara kering. Saya pun bergegas datang.


Yah, ituah sekelumit dunia kantor saya, yang gak pernah lepas dari omongan soal makan. Tiap hari deh, kayak gitu, makan bareng dan ngomongin makanan, sampai kadang-kadang saya bosan. Begitu saya cabut ke Perancis, saya denger, anak-anak nemu tempat makan baru, di daerah kantor PLN Menteng (menteng atau gambir ya? lupa). Kebetulan emang lokasi kantor kami bener-bener deket dengan berbagai restoran dan tempat makan, dan juga toko kue yang masok ke hotel bintang lima (tapi kalo beli di sono harganya sih murah banget.. cuman gitu sampe di hotel, harganya 3 kali lipat bo!). Kalau mau makan gak pernah susah nyari emang, paling jauh pun masih bisa ditempuh dengan bajaj. Kalau hari jumat, bener-bener surga, jam makan siang lebih panjang, gak jarang kami bisa ditemui di Sarinah Tamrin lagi nyari restaurant, atau di jalan sabang ke factory outletnya Kong Guan.

Begitu banyaknya ragam makanan di Indonesia, sampai-sampai kami tidak pernah berhenti membicarakannya. Ada yang lagi pengen gudeg ps. Cikini, ada yang pengen sop buntut Pasaraya Young and Trendy, batagor yang udah digusur, ada yang selalu merindu lontong sayur (seperti saya ini misalnya), bubur ayam depan kantor, soto tangkar kantin belakang, lontong cap gomeh, rendang padang... duh... kayaknya gak bisa deh disebutin satu-satu di sini.

Teman-teman kantor saya itu emang orangnya demen banget makan, hobby nyoba resep, dan ngomongin makanan. Ada yang suka bawa kue tradisional ke kantor, udah gitu, kalau saya lagi tugas keluar kantor, misalnya menghadiri sidang di pengadilan Jaksel, ada yang nitip donat yang dijual di koperasi situ, sop buntut goreng di seberang PN Jaksel, dll.

Nah, sekarang, coba bantu saya, apa saya yang bodoh atau si penulis artikel yang salah sih, yang bilang kalau masakan indonesia itu mediocre, lacking of variety? Setau saya, di tiap negara manapun, makanan selalu memegang perananan penting, dan merupakan cerminan kekayaan budaya dari setiap daerah, walaupun mungkin kita tidak setiap hari memberikan saji-saji kepada dewa, tidak seperti di Bali. Tapi tidak jarang, makanan model A atau model B disajikan untuk menyambut kelahiran bayi, pindah rumah, ulang tahun (model nasi kuning), merayakan weton-wetonnya orang jawa (bubur merah putih lah), roti buaya untuk kawinan betawi, dll.

Dan jangan salah Mas, kita ini hobby banget ngomongin makanan, seperti juga orang Perancis. Makanya orang Perancis yang beristrikan cewek Indonesia girangnya minta ampun, soalnya makanan kita beragam, enak-enak, dan mereka kayak ketemu soulmate yang demen dine out, cocok dengan budaya mereka. Udah gitu, kita gak bisa berhenti ngomongin makanan. Gak heran, banyak dari suami kami yang jadi gendut setelah menikah dengan kami.

Kadang-kadang, saya jadi bersukur, saya ini orang indonesia. Kalau ketemu orang yang ngomongnya gak nyambung atau hari panas suasana ikut panas, mending ngomongin makanan aja deh.. subyeknya netral, aman dan bikin orang damai. Kalau urusan perut, biasanya kita seiya sekata sih, apalagi orang indonesia, pasti seiya sekata kalau bilang makanan kita paling wuennnnnuakkkkkkkkkkk bila dibandingkan dengan makanan dari negara-negara lain.

Update: tanggal 8 mei 07, saya chat conference sama dua orang mantan sejawat kantor.. Yang diomongin, restoran jepang (lupa namanya) sama bombay blue, restoran baru di jakarta, yang katanya ennuak banget. Udah gitu pun obrolan berlanjut ke supir kantor yang kakaknya jualan lopis... mampus dah.. saya pun cuman bisa melongo, gak ngerti apa-apa

SI DODOL DAN SI DUREN PART 2

"Ini cium jauh untukmu, Sayang!" kata Duren membuka percakapan, sambil mencium tangannya dan kemudian meniupkannya ke arah Dodol.


"Hiiiii!!!! Ogah ah!!!" jawab Dodol sambil menghindar di belakang beberapa kantong belanjaan.

Mengetahui Dodol berlagak jual mahal, Duren kumat isengnya, "Sekali lagi ya?". Diulanginya lagi aksi barusan. Si Dodol yang tadinya udah mo keluar dari balik tumpukan kantong belanjaan, jadi gak jadi, dia ngumpet lagi.
Tiba-tiba, sebatang permen Carambar* rasa lemon, mendarat tepat di tengah jidatnya.

"DUH!!!! APA-APAAN SIH INI???!!!", Dodol mulai ngamuk disambit Carambar. Malu lebih tepatnya. Kan gak enak banget, ada permen mendarat di jidat. Jidat bo! Dodol memungut Carambar yang jatuh ke lantai. Kemudian sambil ngamuk-ngamuk, dilemparnya gula-gula itu ke arah Duren, sebagai balasan. Duren mengelak ke kiri, sedangkan Carambar melesat ke kanan. Meleset!!! Duren kegirangan, "YEE..!!! GAK KENA!!!"

Dodol mulai bete. Makin malu aja deh, pertama pakai permen mendarat di jidat, eh sambitannya pakai acara meleset pula. Dia merengut, kemudian masuk kamar. Duren yang jadi gak enak hati, langsung minta maaf, tapi dicuekin. Rasa malu di hati Dodol masih berasa pedih sih.

Gak lama, dia keluar kamar, dan berkata kepada Duren, "Ya udah.. kita cease fire aja deh!"

"Ha? Apaan tuh cease fire?"

"Huuu.. masa gak tau sih, cease fire??!!" sentak Dodol dengan maksud menghardik. Ini yang dodol siapa sih? Rasa malu masih berjejak di hati agaknya.

"Cesse le feux!!!! Baekan!!!!", katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya. Duren bengong, "Loh kenapa jari kelingkingmu?", tanyanya.

"Ini kalau di Indonesia namanya ngajakin baekan! Ayo lakukan hal yang sama pada jari kelingkungmu!", jelas Dodol.

Duren pun memberikan tangan kelingkingnya, dan Dodol pun menyambutnya dengan melingkarkan kelilingnya kepada kelingking Duren.

"Sekali lagi dong? Kok lucu amat ya, di Indonesia begini ya kode untuk baekan? So cute!"
"Ya iya dong!!! Orang Indonesia, imut-imut gitu loh!!!"



_____________________________________________________________________________________________
*carambar, permen yang bentuknya batangan sekitar 10 centimeter, dan rasanya mirip banget permen Sugus.

PERCAKAPAN ANTARA DODOL DAN DUREN

Percakapan ini terjadi dalam bahasa Perancis,antara Dodol (perempuan) dan Duren (laki-laki).

...

"Oh... aku suka sekali dengan fauchettemu", kata Dodol.

"Fossette (lesung pipit)!!! ", kata Duren membetulkan pelafalan Dodol yang salah.

"Oh iya, fossette!", kata Dodol mengulang kata lesung pipit dengan prononciation yg benar. Tengsin juga dibetulin.

Ah, Dodol memang selalu salah dengan pelafalan bahasa Perancis. Dia coba lagi pelafalan kata fossette. "Fossette", ucapnya lagi sambil memonyongkan mulutnya membentuk huruf "o bulat" di bagian huruf o.

"Oh kamu seksi sekali kalau berbicara dengan bahasa Perancis, dengan bentuk mulutmu yang seperti itu dan aksenmu yang khas", puji Duren.

"Coba sebutkan satu kata Perancis lainnya,aku ingin mendengar lagi aksenmu yang khas!", pintanya. Dodol mulai ke-GR-an, dan mencoba mengingat satu kata Perancis yg menurutnya susah untuk dilafalkan.

"Cer - veau (otak). Cerveau!", eja Dodol tiba-tiba, sambil memonyongkan mulutnya membentuk huruf "o bulat" di bagian "veau".

"Buset!! Gak ada kata lain yang lebih seksi untuk dilafalkan apa?! Apa seksinya nyebut-nyebut otak?!"

"????!!" (tiba-tiba Dodol kepikiran otak sapi goreng) Dasar Dodol!