Thursday, 3 January 2008

Apa Sih Yang Kurang Dari Pariwisata Kita?

Hari ini guru di sekolah, banyak banget berbicara tentang Malaysia dari segi tourism, mengapa mereka sangat hebat sekali dalam pariwisata, dan menduduki peringkat yang lumayan tinggi dalam hal index pariwisata di dunia (kerentanan mereka terhadap industri pariwisata dilihat dari bagaimana negara itu menangani keadaan pariwisata di negaranya, hal ini dilihat dari beberapa faktor, antara lain masalah regulasi pariwisata, kelengkapan infrastruktur atau bagaimana masyarakat suatu negara menerima dengan baik wisatawan asing). Indonesia, menduduki urutan ke-60, melampaui India, Afsel, dan beberapa negara asteng lainnya. Index pariwisata ini diterbitkan oleh organisasi dunia dalam bidang Ekonomi, yang berpusat di Davos, Swiss (itu loh, yang tahun lalu Angelina Jolie dan Brad Pitt secara khusus dateng ke sana, dan langsung bikin heboh dunia paparazzi).

Nah, sampailah si guru, menceritakan bahwa iklan pariwisata Malaysia sangat menarik dan menggoda. Sayangnya (atau untungnya), waktunya gak cukup, jadi kita gak sempat melihat iklan yang dimaksud. Tapi saya udah kebayang, kira-kira bagaimana rupa iklan itu. Trully Asia, yang digambarkan dengan orang dari berbagai suku bangsa, dan mungkin banget ada orang dayaknya. Sempet terlintas di kepala saya, lagu rasa sayange dan juga reog ponorogo yang minggu lalu katanya diklaim sebagai barongan mereka.

Secara khusus, setelah bubaran kelas, saya datangi guru saya, dan saya tanya, mengapa dia pilih membahas malaysia hari ini, dari sekitar 124 negara yang diteliti index pariwisatanya, mengapa mereka? Kira-kira saya sudah tau apa jawaban dia. Katanya, dia sangat tertarik dengan iklan yang ditampilkan di media-media, seperti di majalah, CNN, de el el Juga banyak sekali list yang diberikan oleh UNESCO terhadap kebudayaan mereka (masa iya sih?). Saya jelaskan, memang kami mengakui bahwa mereka memang sangat jago menjual pariwisata mereka, sangat diacungi jempol. Kemudian saya juga bercerita, tentang masalah promosi pariwisata mereka yang banyak menyinggung perasaan bangsa kami. Profesor saya cuman mengangguk-angguk. Rasanya saya seperti orang bodoh deh, mencoba menjelaskan suatu kenyataan, tapi sepertinya orang tidak terlalu peduli.

Saya tidak sirik dengan Malaysia, kalau mereka memang kaya akan sumber pariwisata, biarlah mereka menjadi terdepan. Setidaknya kami bangsa Indonesia tidak pernah mengkritik cara Thailand mempromosikan daerahnya yang memang ok berat, dan karena mereka tidak pernah merugikan bangsa kita kan? Atau Philippina yang tidak juga mengklaim hal-hal tertentu, padahal budaya kita kan juga banyak kesamaannya dengan mereka. Yang paling tidak saya suka, adalah bagamana orang lain mengklaim bahwa sesuatu adalah hasil pemikiran mereka, kemudian membuat kesan kalau hanya di daerah mereka lah hal itu dikenal dan lahir di sana.

Oke, saya tidak akan berpanjang-panjang tentang hal yang sudah sangat sering dibahas ini, karena tidak banyak gunanya kita menyalahkan mereka. Yang penting bagaimana kita melihat diri kita, dan membangun apa yang perlu ada, atau diperbaiki.

Sesampainya di rumah, saya buka situs berita Le Monde untuk mencari berita-berita terkini, dan lucunya, di situ ada iklan tentang pariwisata Malaysia, menggunakan bahasa perancis. Hebat, dalam hati saya. Mereka benar-benar all out terhadap pariwisata mereka, termasuk mengenal benar target mereka, yaitu orang perancis yang gak bisa bahasa lain selain bahasa perancis. Di dalamnya ada tentang orang dayak, makanan, de el el. Trus di mana dong, iklan-iklan pariwisata kita, ulasan tentang rendang dalam bahasa perancis, misalnya? hehe.

Saya pernah secara khusus mencari iklan pariwisata Indonesia di youtube, dapat! Iklan itu pakai bahasa inggris, dan entah apakah iklan ini pernah ditampilkan di CNN atau di expo-expo international? Iklan berdurasi panjang ini sepertinya tidak untuk ditampilkan di TV, jadi ditampilkan mana dong? Di Le Monde, saya tidak pernah lihat deh iklan pariwisata Indonesia, meski kalau di kedutaan RI Paris sih pernah lihat juga ada brochure-brochure, tapi orang kan harus secara khusus datang ke sana bukan?

Rasanya lemes deh, sadar bahwa kita memang masih harus beres-beres atau cuci piring. Untungnya, walaupun belum maksimal hasilnya, pemerintah kita sudah mulai sadar apa itu marketing negara kita (kayaknya sadarnya udah lama sih, semenjak visit Indonesia year berpuluh-puluh tahun yang lalu, lupa kapan pastinya..hehe). Ternyata tahun depan, bakal ada lagi tahun visit Indonesia Year 2008.

Coba lihat situs ini: http://www.my-indonesia.info/index.php. Coba juga lihat foto-fotonya yang dibikin oleh agen RIA NOVOSTI, kalau saya tidak salah, ini adalah kantor berita resminya Russia. Apakah kita pernah tahu tentang keberadaan situs ini? Kalau saya tidak khusus mencarinya, saya tidak akan pernah tau. Huuu... saya ini orangnya ignorant sekali ya ternyata.... apa pemerintah yang kurang promosi?

Saya juga mencari tahu tentang situs budaya UNESCO dan bandingkan dengan negara-negara tetangga. Untungnya Indonesia masih punya lebih banyak hal yang termasuk dalam list UNESCO, walaupun bila dibandingkan dengan Italia atau Perancis, Indonesia kalah jauh banget, tapi setidaknya ini cukup membanggakan saya (sedikit bisa bernapas lega kalau apa yang dikatakan profesor saya tentang negara tetangga yang saya sebutkan sebelumnya, tidak benar adanya..).

Saya pernah baca, miss pariwisata Indonesia tahun 2006, (lupa namanya siapa) berkata: "Sebetulnya kesuksesan pariwisata Indonesia bukan hanya bergantung kepada pemerintah aja loh, tapi juga seluruh lapisan masyarakat". Hmm.. kesannya emang kata-kata dia orba banget sih, tapi setelah saya renungkan, bener juga loh. Kalau kita cuman menuding pemerintah gak komit dalam menjalankan pariwisata, dan kita terus berlaku seenaknya terhadap wisatawan (tidak kooperatif) yah percuma juga itu peraturan digolkan ditingkat atas kalau kitanya juga gak komit untuk menjalankannya. Saya pikir, keberhasilan Indonesia bukan hanya usaha satu golongan saja, tapi juga usaha setiap orang.

Saya gak mau ah berteori-teori, saya sendiri gak punya solusi yang jelas nyata dan jreng hasilnya. Tapi sekiranya, saya tidak akan pernah berhenti mempromosikan negara saya kepada khalayak ramai, ke semua orang yang saya tahu, walaupun saya tahu, wisman-wisman yang datang ke Indonesia bakal terus kecele merasa terus diplorotin. Tapi saya gak mau putus asa, karena saya pikir, orang Indonesia bisa belajar dengan langsung praktek. Kalau menunggu mereka berubah, ya kapan? Gimana kalau wisman terus datang, dan orang Indonesia jadi "dipaksa" belajar berubah?

Ah, maaf kalau saya terlalu nasionalis terhadap Indonesia. Temen Phil saya di kelas yang lama tinggal di My aja sering kali membanggakan negara itu, dan sudah sangat hopeless dengan keadaan negaranya sendiri, makanya dia sering kali godain saya setiap saya bilang, saya gak suka dengan negara tetangga kami itu.

Bukan dari segi saya tidak suka orang-orangnya, tapi saya hanya tidak suka cara mereka seperti anak kecil yang manja, yang apa-apa mau diaku miliknya. Kalau soal mereka lebih maju, memang kenyataannya seperti itu, ya mau apa? Tapi yang jelas, rasa marah kalau budaya kita diambil negara lain, tidak ada hubungannya dengan masalah sifat orang-orang di negara itu. Saya tidak membenci orang-orangnya, tapi tidak menyukai negaranya.

Teman Phil saya ini, sering kali bilang ke saya, kalau dia ingin sekali pensiun di My atau bikin investasi di negara itu, karena dia cinta banget dengan My. Dia sering ngajak saya. Hehehe.. saya mah ogah deh mbak, bukan negara gue juga sih, kalau saya bisa dan mampu sih, mendingan nolongin bangsa sendiri aja deh yang jelas-jelas bikin ortu atau generasi penerus bangga. Kesannya saya emang terlalu banyak omong, tapi entah kenapa, saya memikirkan keponakan kecil saya yang imut-imut, apakah nanti kalau dia sudah mengerti tentang dunia, apakah masih ada sesuatu di Indonesia yang bisa dibanggakannya? Jangan-jangan dia malah malu jadi orang Indonesia, seperti generasi-generasi seumuran saya.

Menurut teman-teman, apa sih yang kurang dari kita? Apakah ada yang bisa kita bantu untuk menolong Indonesia? Walaupun hanya sedikit tenaga, tapi kan lebih baik daripada tidak pernah sama sekali....

Yang ini pesan yang saya tulis di salah satu blog saya (yang bahasanya bukan bahasa indonesia.. rennnn ca na nya sih gitu.. hehe.. tp saya males banget update), yang saya tujukan untuk para francophone untuk kira-kira mencari tau, apa sih nama-nama di bawah ini.... Ada yang mau membantu saya menambahkan daftarnya? Silahkan loh... saya sangat butuh info, walaupun ini cuman setetes air di lautan...

Monday, 26 November 2007

Masih Belum Bisa Lega

Setelah lama sibuk dengan kuliah, dibombardir dengan tugas kuliah, test mendadak, pesta pelajar, pameran wine, dan juga blokade dan mogok masal perancis, saya masih belom bisa bernapas dengan lega. Tapi dengan berakhir atau disuspensinya grève (mogok), saya bisa sedikit tenang dalam menjalankan tugas kuliah.

Saya masih belum menemukan internship untuk mendukung study saya, karena banyak sekali ternyata masalah yang saya alami dengan sekolah saya yang tai kampret itu, hehe. Belum lagi si mas gorilla akhir pekan ini bakal ke Jepang, meninggalkan saya sendirian berkecimpung dengan dunia perancis yang penuh dengan ketololan. Satu-satunya yang membuat saya cukup gembira adalah kelas bahasa asing yang saya ambil di kelas, yaitu kelas bahasa Cina dan kelas bahasa Spanyol, saya kembali menghidupkan mimpi saya. Selain itu, tidak semua hal berjalan dengan bagus.

Tapi teteup, saya akan terus berpikiran positif. Bila saatnya tiba, semua akan menjadi indah. Sementara itu, saya menghibur diri saya dengan lagu-lagu dari AIR, dan juga Pulp, band jadul yang bikin saya bener-bener jatuh cinta. Buat saya, pulp itu mengalami revolusi yang bagus sepanjang karirnya. Mulai dari lagu-lagu model era The Clash, David Bowie, sampai Blur. Sayang mereka bubar..
Tapi gak apa. Rindu terobati ketika mencari musik mereka di directory www.deezer.com, dan juga menemukan beberapa video clip mereka di youtube.


Sunday, 21 October 2007

Dibikinin Tas Sama Mas Gorilla

Besok, mulai lagi deh yang namanya sekolah setelah dua minggu libur. Gue yang bokek berat, pengennya bawa rantangan ke sekolah biar bisa makan siang cara hemat. Tapi kok malu ya, bawa-bawa rantangan yang dipamerkan gitu ke semua orang. Apa kata dunia ngeliat ini cewek asia banget, trus nenteng-tenteng rantang, baik di sekolah maupun di angkot paris.. halah...

Gue minta tolong sama suami gue, untuk bikinin tas, dari bahan yang kita punya. Tasnya mirip-mirip aja sama tas yang dia pernah bikin sebagai sarung tenda camping kami. Dia setuju.. sore tadi, dia langsung tuh bikinin tas pesenan gue, pake mesin jahit yang kita punya. Gue request tasnya, bentuknya harus tas tentengan (tote bag istilah modenya.. cie elah), bisa masuk rantangan dan termos minuman gue yang ekologis itu.

Jadinya ya seperti ini: Tadaaa...



Asli deh, LV LV aja mah.. kalah banget sama tas bikinan dia.. hehehe.. Keren kan?
Tapi ngomong-ngomong, ini tas bikinnya seadanya banget, lihat gimana design, motong bahan dan ngejaitnya dong.. ancur banget. Coba aja intip dalemnya, jaitannya ancur banget. Dia aja gak pake ukuran pasti bikinnya, asal gunting gitu. Tapi gak apa-apa, paling nggak, cukup stylish deh, buat nutupin rantangan gue.
rantangan dan botol minum gue masuk di dalemnya

Dan kalau gue gak lagi pakai baju kantoran (gue kuliah wajib pakai baju kantoran), tas ini macthing banget sama jeans gue.. Hahahaha...

Thanks beib!!! Love you as always!

Wednesday, 17 October 2007

ACI

Gak tau dari kemaren, mikirinnya pulang melulu. Udah setahun gak pulang (loh baru setahun, ya gak sih?). Udah belakangan hari ini, gue ngeliat beberapa film Indonesia model Naga Bonar jadi 2, Jakarta Undercover di youtube, trus jadinya one thing leads to another gini, gue jadi cari-cari klip tentang Indonesia atau Jakarta karena merasa kangen, rindu, kehilangan.

Gak cuman berhenti di situ, gue juga jadi cari-cari lagu-lagu perjuangan bangsa padamu negeri, tanah airku di imeem.com, multiply, juga di youtubenya sendiri, dari lagu Bengawan Solonya Gesang, sampai lagu Benderaku-nya Coklat. Masih mau terus, gue mencari tahu beberapa kekayaan bangsa Indonesia, ya mulai dari angklung, batik, makanan, dan beberapa bumbu-bumbu yang asalnya dari Indonesia. Bangga rek...Indonesia itu kaya banget, cuman salah management aja. Ah, tapi gue gak mau nyela-nyela pemerintahan di sini. Udah bosen ah. Nyela itu gampang banget, tapi coba kalau kita yang disuruh pegang tanggung jawab itu, mendingan lari khan? Takut gak bisa nolak kalau diajak korupsi? Takut gak kuat ngelawan arus? Bosen ah dengernya!! Padahal kalau gak bersatu, ya mana bisa ya? Harus ada yang memulai duluan khan?

Selama gue tinggal di beberapa kota di luar Indonesia, gue semakin sadar, gak ada kota/negara yang sempurna (apalagi Paris, sebagai salah satu kota yang paling wah di dunia). Semua memiliki segala kekurangan. Pada akhirnya, either gue cuman bisa nerima, atau nggak ya gue cuman mencari, suatu tempat di mana gue merasa hati gue di sana. Dan itu gue rasa adalah Jakarta.

Cita-cita gue: dua tahun lagi balik ke Jakarta, tinggal dan kerja di sana bareng suami. Ngurus nyokap-bokap tercinta, mendekatkan diri sama keluarga yang lain memberikan sedikit uluran tangan gue kepada bangsa gue, yah mungkin gak akan banyak, tapi lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali. Langkah raksasa belom bisa dibikin, yah yang kecil-kecil aja dulu deh.

Sementara cita-cita itu belom tercapai, yang bisa gue perbuat hanya: mengajarkan suami gue bahasa Indonesia sedikit-sedikit, memperkenalkan kekayaan budaya yang kita punya terhadap orang-orang di sekitar gue, dan tentunya gue akan mengajarkan itu semua ke anak-anak gue kelak. Mengajarkan mereka tentang apa yang gue punya dalam hati gue sekarang: Bangga menjadi anak Indonesia.


Tanah Airku


Indonesia Tanah Air Beta

Nah kalau yang ini, adalah iklan favorit gue sepanjang masa, dari jaman gue SMP, gak pernah bisa lupa sama iklan yang satu ini. Terkenang terus sama lagu dan temanya. Pas betul.

Tuesday, 16 October 2007

BokeK & The Keke

Gila.. bulan ini kita penuh dengan kebokekan! Pulang liburan selama 3 minggu yang budgetnya udah kepotong duluan untuk bayar pajak penghasilan tahun ini, kita udah boke banget. Liburannya kelamaan juga sih, hehe. Kita waktu itu mikirnya, "wah ya udah deh gak apa-apa, toh gak ada yang harus dibayar-bayar lagi nih, selain pajak tempat tinggal yang kira-kira datangnya akhir bulan October".

Ternyata dugaan kita salah man! Ada tagihan untuk perawatan gedung apartemen yang biayanya gak sedikit itu. Bulan april tahun ini, kita udah bayar sejumlah uang, yang jumlahnya sangat mencekek banget itu, kita pikir udah abis.. ternyata masih ada lagi sisa tagihan yang keluar di bulan September ini, yang jumlahnya juga mencekek leher. Nasib!

Dan parahnya semua tagihan yang lain yang biasanya keluar tiap beberapa bulan sekali, bangsa listrik, gas, telepon, juga jatoh tempo pada waktu yang berdekatan. Boke lah kita. Berat! Selama dua tahun gue tinggal di Perancis, belom pernah deh yang namanya kita seboke itu karena ditagih macem-macem dalam waktu yang berdekatan. Hiks. Lebih buruk, tagihan cicilan sekolahan gue, keluar juga. Buat orang lokal, duit segitu nyarinya juga sebulanan. Panik? Sempet sih.

Tapi ya udah, mo digimanain lagi. Mr. Gorilla kan orang lokal, masa sih dia gak bisa survive di negaranya sendiri? Hahaha. Gue sempet stress sih, masa pada saat yang bersamaan Mr. Gorilla harus tugas ke negara matahari terbit. Yah?!!! Gue ditinggal bersama hutang-hutang yang menumpuk? Sensi gitu gue jadinya.. hehehe...Untung dia pergi hanya seminggu, dan sabtu kemarin, dia udah ada di pelukan gue lagi (biar kata boke, ngomong dangdut tetep harus jalan).

Akhirnya kita pun mengencangkan ikat pinggang. Tas pinggang Mr. Gorilla yang sempat hilang beberapa waktu lalu karena liburan yang penuh dengan siksaan olahraga, dan sempat mau muncul kembali karena makanan enak di akhir liburan, jadi harus terpaksa ngeblesek ke dalam. Mau gimana lagi? Gak ada pilihan. Tapi sebelnya, pada saat yang sama, sebetulnya ada beberapa keinginan beli ini itu, dan ada beberapa teman yang sedang ada di Paris, dan gue juga lagi ada libur kuliah, jadi pengen berdekatan dengan kawan-kawan selagi masih sempat. Tapi gak bisa maximal gitu karena asli gak ada duit buat ngafe. Hiks. Mana ada hutang masakin masakan Indonesia buat orang Belgi, kan gak enak masa nunda melulu? And to make things worst, kita harus terima tamu nginep di rumah kita. Yang ini mah gak bisa dibatalin karena direncanainnya udah beberapa minggu sebelomnya dan mereka harus datang ke Paris dari Grenoble untuk nonton konser Dream Theatre bersama suami. Yah tamu kan pembawa rejeki harusnya, jadi ikhlas lah, harus diterima dengan tangan terbuka, walaupun hasilnya gak maksimal, karena waktu itu gue lagi sibuk-sibuknya kuliah dan ada test segala.

Selain itu, gue juga harus nginep di tempat Dewi untuk menghindari nervous breakdown ditinggal suami tugas seminggu...hehe. Ini sebetulnya sunnah sih, tapi gue kan juga pengen spend some times sama si Dewi, kebetulan lagi sempet. Nah, yang namanya nginep kan gak mungkin gue gak masak buat si dewi juga.... gue bukan tipe orang penganut mangan ora mangan sing penting ngumpul, buat gue, ngumpul ya harus pake makan bareng. Gue kan lebih sebagai orang Indonesia bukan orang Jawa.

Lebaran, kita juga maksa ke KBRI untuk makan siang gratis. Makanan gratis aja kita gak nolak, apalagi ini makanan Indonesia gitu loh! Tapi apa daya, ke sananya aja kan butuh ongkos ya. Kami berencana menggunakan motor guna menghindari kemacetan lalu lintas akhir pekan Paris. Tapi sial, ternyata tanki bensinya kosong mplompong. Sialan, jadi kudu beli dulu deh tuh! Untung ada persediaan duit yang gue lipet-lipet di bawah bantal (hehe bokis deng). Jadi kita akhirnya melaju juga ke KBRI setelah isi bensin.

Sampe di sana makan pun gue gak bisa terlalu banyak, karena saking banyak ketemu orang-orang, gue jadi keenakan ngobrol gak jelas. Mana si Alia temen kuliah gue yang sekarang jadi dosen di Unpad, dateng lagi ada konferensi. Ih gue demen banget dah. Tapi rugi.. makanannya kurang banyak.. kan tadinya niatnya makan sekenyang mungkin biar gak usah makan malem lagi..hehehe.

Untuk masak makanan di rumah, gue terpaksa ngurangin bumbu-bumbu dan kuantitas bahan makanan, demi menghemat. Untung di freezer ada stock sedikit daging, dan gue berusaha gak makan siang. Atau makan pagi dan siang gue gabung..haha. Sebetulnya praktek begini biasa banget kan, tapi gue jadi lebih extra kelaperan berat gitu. Sosis kering (halal dong), yang gue beli seminggu yang lalu untuk ngejamu tamu dari grenoble, gue makan tipis-tipis untuk cemilan. Makannya pake nasi segala biar kenyang dikit. Tapi gila, semakin makan itu semakin pengen tambah, walhasil, itu sosis nyaris abis deh. Udah gitu, dalam waktu 2 hari, gue udah sempet makan banyak banget indomie. Buset, gue baru kali ini makan indomie dalam waktu berdekatan sebanyak itu. Gak sehat deh ngerasanya, yang biasanya gue ngefans dengan rasa kimia indomie, jadi gak napsu lagi saking bosennya. Anak kost-kostan banget gak seh? Tapi udara mendung dingin gitu di luar, bikin perut makin berasa keroncongan. Lapperrr...

Tapi kemaren malem, gue bener-bener udah gak kuat nahan napsu untuk masak yang sedikit ngejreng. Masa makan indomie melulu? Gue bikin aja tuh ayam goreng bumbu petis resep mbak Wienda. Gue bikin porsinya gak banyak emang, tapi tauknya Mr. Gorilla ada acara tanding turnamen volley kantor di Vélizy (tauk tuh tumben, gue aja kagak tau kalo dia bisa maen volley), jadi gue makan sendirian, gue sisain ayam buat dia juga.

Pulangnya, dapet kabar baik, tim dia juara ke-2 dan dapet voucher belanja di Décathlon. Asik (tapi belanjanya kapan-kapan aja kali ye). Trus dia gue tawarin makan malem pake ayam.

"Gor.. lo mau ayam panggang bumbu petis gak?" tanya gue.
"Ogah ah.. gue udah makan sandwich tadi sebelom tanding", jawabnya. Tapi dia mengamati itu ayam dengan seksama.
"Eh... menggoda juga ye ayam lo!" katanya cengar-cengir. "Boleh juga deng, gue makan ya?"
"Oke! Gue ambilin piring!" jawab gue. Eh belom sempet ambil piring, dia bilang gini, "Eh gak usah deng! Itu buat elo besok makan siang di rumah aja biar hemat. Kasian elo besok gak ada makanan kalo ayamnya gue makan!"

Gue bengong.... Tapi sumpah, gue ampir ngakak. Segini bokeknya-kah kita sampe urusan makanan aja bener-bener pake istilah sepiring berdua? Gue sambil malu-malu cuman bisa berucap, "Aduh Gor, makasih ya, elo emang suami penegertian banget deh. Di saat hidup susah begini, elo gak pernah ngeluh, malah dengan baik hatinya memikirkan nasib mulut istri elo yang pemales ini".

Abis itu gue langsung menuju komputer, niatnya sih mo browsing cari kerja part time buat sekolahan...hehehe.




Nonton Konser Feist di Pigale Paris




Udah lama sih sebetulnya, minggu lalu, sama si Dewi. Gue udah lama banget pengen nonton Feist, penyanyi folk asal Canada, sama si mr. Gorilla, dan beli tiketnya udah lama. Eh ternyata pas hari Hnya, dia harus terbang ke jepang untuk tugas. Ya udah, untung ada si dewi, tiket gue jual ke doi deh, dan malam itu kita enjoy dan makin cinta sama feist. Apalagi band pembukanya juga keren, Broken Social Scene, band asalnya Feist sendiri. Tapi sayang, feist gak nyanyiin dua lagu kesukaan gue, inside and out sama one evening, padahal gue kepengen banget tuh nonton dia live nyanyi lagu-lagu tersebut. Ya wajar sih, lagu-lagu yang dia nyanyiin ya kebanyakan dari album terakhir The Reminder.

Yang bikin bete sih, kita gak bawa kamera, padahal boleh ternyata foto-foto di dalam ruangan konser. Abis gue kapok sih, waktu nonton konser Lorena McKennit, kamera si keong mas disita sama petugas, dan baru boleh diambil setelah konser selesai. Kan males kalo kejadian itu berulang lagi di konser Feist. Hu hu hu.. gak punya fotonya deh... Ah ya sudahlah, yang berlalu ya udah berlalu.

Nah, denger lagu kayak gini, apa tidak membuat hati kita ceria? Lagu-lagu model begini, Fesit deh ratunya!

Psst... foto diambil dari phone camera, dengan jarak yang mayan jauh..hehe

Tuesday, 2 October 2007

Mata Jendela Jiwa

Kemaren, tanpa sengaja, saya ngobrol dengan salah seorang mantan pacar saya dahulu, lewat internet. Obrolan hanya sekitar basa-basi, apa yang baru dengan hidupnya bangsa kerjaan. Saya menemukan bahwa otaknya masih saja di bawah standard, hehe. Tapi ada hal lain yang datang ke benak saya ketika kami mengobrol, yaitu saya jadi teringat, apa yang membuat hubungan kami kandas. Ada hal lain yang lebih penting daripada sekedar otak (walaupun itu juga penting banget!). Ternyata adalah bahwa ketika saya menatap matanya, saya tidak menemukan keteduhan, keseriusan, dan yang penting adalah jiwanya.

Tapi ketika saya menatap mata mas gorilla ketika kami mulai pacaran serius, saya menemukan kebeningan jiwanya, jauh di dalam kalbunya. Dan buat saya kala itu, hal ini cukup untuk memberika sinyal kepada saya, bahwa ada kemungkinan kita berjodoh. Dan dalam kata "jodoh" terkandung kalimat: ada usaha kedua belah pihak yang dapat menentukan cuaca keesokan harinya.